KENAPA MESTI SALAFY?
Kaum muslimin pada zaman shohabat dan zaman yang masih dekat dengan mereka, tidak memiliki penamaan tertentu yang menjadi ciri bagi mereka. Yaitu zaman sebelum munculnya perpecahan dan kelompok-kelompok dengan pemahaman baru di dalam Islam. Hal ini dikarenakan karena mereka menjalankan Islam dengan sebenarnya maka muslimin dan mukminin hakiki adalah mereka dan merekalah muslimin dan mukminin hakiki[4]. Maka setelah munculnya perpecahan dan pemahaman-pemahaman yang menyimpang, maka maka-kata muslimin dan mukminin juga mencakup Ahlul Ahwa’ (orang-orang yang berpemahaman sesat) karena cenderungnya mereka kepada hawa nafsu dalam beragama. Demikian juga mencakup Ahlul Bid’ah karena mereka mengikuti perkara-perkara baru yang berasal dari luar agama. Ahlul Syubhat juga termasuk kedalamnya, yaitu orang-orang yang menyamarkan antara kebenaran dan kebatilan sebagai pondasi bagi mereka untuk meninggalkan sunnah ketika mereka berpegang kepada dasar yang tidak jelas dan rusak.
Akibat berkembangnya orang-orang dengan menyimpang tersebut, muncullah perpecahan dan kelompok-kelompok dalam yang semuanya menyandarkan diri kepada Islam. Sehingga muncullah penamaan bagi orang-orang yang betul-betul menjalankan Islam sebagaimana jalan yang ditempuh oleh kaum pertama lagi terdahulu, untuk menunjukkan bahwa bukan mereka yang berpecah dari jalan asal dan mereka bukanlah orang-orang yang mengikuti hawa nafsu dalam beragama. Penamaan-penaman itu muncul baik dengan penamaan yang datang langsung dari syari’at seperti: Al-Jama’ah, Jama’atul muslimin, Firqotun Najiyyah, dan Ath-tho’ifah Al-Manshuroh. Atau penamaan itu muncul dari sisi konsistennya mereka dalam menjalankan sunnah di tengah kebid’ahan yang berkembang, dengannya mereka memiliki hubungan dengan generasi pertama lagi terdahuhu, sehingga mereka pun dinamakan kaum Salaf, Ahlul Hadits, Ahlut Atsar, Ahlus Sunnah wal Jama.ah. Penamaan-penamaan ini adalah penamaan yang syar’i berbeda dengan penamaan kelompok lainnya.[5]
Adapun salafy adalah orang-orang yang memahami Al-Qur’an dan Sunnah di atas pemahaman generasisalaf (terdahulu) tersebut. Sebagaimana dikatakan “Si A Shufy” maksudnya pengikut tarikat sufiyyah, atau “Si B Ikhwany“, maksudnya pengekor Ikhwanul Muslimin dan sebagainya.
Generasi terdahulu tersebut –yang dikenal juga dengan Salafus Sholih- adalah orang-orang yang menjalankan syari’at Islam sesuai petunjuk yang diarahkan oleh Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallamdari kalangan shohabat, tabi’in (orang-orang yang mengambil ilmu dari para shohabat) dan Atba’ut Tabi’in (orang-orang yang mengambil ilmu dari para tabi’in).
Maka dakwah salafiyyah adalah dakwah di atas pemahaman Salafus Sholih, dakwah kepada Islam yang hakiki, yang Alloh perintahkan bagi kita untuk mengikutinya. Alloh berfirman:
وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى
“Barangsiapa yang menyelisihi Rosul (Muhammad) setelah jelas petunjuk baginya, serta mengikuti selain jalan orang-orang yang beriman, maka Kami biarkan dia dengan (kesesatan) yang dipilihnya” (QS An-Nisa’ ayat 125)
Jalannya orang-orang beriman adalah jalannya mereka, jalannya para salafush sholih karena merekalah generasi terbaik dan cerminan umat ini. Seorang lelaki bertanya kepada Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam: “Siapakah sebaik-baik manusia?”. Maka beliau menjawab:
الْقَرْنُ الَّذِى أَنَا فِيهِ ثُمَّ الثَّانِى ثُمَّ الثَّالِثُ
“Kurun yang aku ada padanya, kemudian (kurun) yang kedua[6], kemudian (kurun) yang ketiga[7]“ (HR Muslim dari ‘Ummul Mukminin ‘Aisyah Rodhiyallohu ‘Anha)
Dalam riwayat lain, beliau bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
“Sebaik-baik manusia manusia adalah kurunku, kemudian yang setelahnya, kemudian yang setelahnya”(HR Bukhory-Muslim dari ‘Abdulloh bin Mas’ud, dan ‘Imron bin Husain Rodhiyallohu ‘Anhuma)
Jadi kenapa mesti salafy ?? Karena beginilah hakikat salafy
Tidak ada komentar:
Posting Komentar