Selasa, 16 Oktober 2012

MENGENYAMPINGKAN DUNIA?


MENGENYAMPINGKAN DUNIA?
Sebagian orang tua mengeluhkan. “Anakku sibuk ngaji terus, sekolah diabaikan … kuliahnya ditelantarkan …”
Wahai para orang tua yang semoga senantiasa dilimpahkan hidayah oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Sesungguhnya kehidupan dunia hanya sekejap mata, kita semua akan menghadapi kehidupan yang kekal yang tiada akhirnya.  Akankah kita berupaya keras  untuk mendapatkan segala yang ada di dunia ataukah kita bersungguh-sungguh mempersiapkan bekal untuk menjawab pertanggung-jawaban kita??
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ ¯ وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ
Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata: Seandainya kita memperoleh seperti yang diberikan kepada Qorun, sesungguhnya dia memperoleh keberuntungan yang besar. Sementara orang-orang berilmu berkata: Celaka kalian, pahala Alloh lebih baik bagi orang yang beriman dan beramal sholih, yang pahala itu hanya didapatkan oleh orang yang sabar”. (QS Al-Qoshos 79-80)
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ¯ وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا قُلْ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ مِنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
“Apabila sholat telah ditunaikan, maka menyebarlah kalian di muka bumi, carilah karunia Alloh dan banyaklah dzikrulloh agar kalian beruntung. Apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, maka mereka segera menuju kepadanya meninggalkanmu (Muhammad) berdiri (berkhuthbah). Katakanlah (Wahai Muhammad): “Apa yang ada di sisi Alloh lebih baik dari permainan dan perniagaan, Allohlah sebaik-baik pemberi rezki” (QS Al-Jumu’ah Ayat 10-11)
Memang Alloh membolehkan manusia untuk berusaha di muka bumi mencari karunia-Nya bahkan Alloh memang menciptakan apa-apa yang ada di bumi bagi manusia, akan tetapi bersamaan dengan itu Alloh juga menjelaskan bahwa mengharap pahala di sisi-Nya lebih utama dari itu semua.
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ ¯ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ ¯ يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Wahai orang-orang yang beriman, maukah kalian Kutunjukkan kepada sebuah perdagangan yang dapat menyelamatkan kalian dari azab yang pedih ? Yaitu: kalian beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya, serta berjihad di jalan Alloh dengan harta dan jiwa kalian. Itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui. Niscaya Alloh akan mengampuni dosa-dosa kalian dan memasukkan kalian ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, serta memasukkan kalian ke tempat-tempat tinggal yang baik di syurga ‘Adn. Itulah kemenangan yang agung” (QS Ash-Shof Ayat 10-12)
Perlu dihayati, bahwasanya dalam ayat-ayat ini Alloh menyebutkan salah satu amalan besar yang bisa menyelamatkan seseorang dari azab yang pedih, Alloh menyebutkan jihad, sesuatu yang mesti ditempuh dengan mengorbankan dunia, baik jiwa, harta atau tenaga, sesuatu yang berat bagi manusia kecuali bagi orang-orang yang Alloh rahmati dan Dia beri petunjuk. Dianugerahkannya kedudukan yang tinggi bagi orang-orang yang jihad walau dengan mengorbankan dunia menunjukkan bahwa dunia tidak ada apa-apanya dibanding menjalankan ketaatan kepada Alloh.
Aslam Abu ‘Imron Rodhiyallohu ‘Anhu mengisahkan ketika mereka berperang dari Madinah menuju Konstantinopel, di dalam rombongan mereka terdapat ‘Abdurrohman bin Kholid bin Walid. Ketika itu pasukan Romawi berlindung dengan menempelkan punggung-punggung mereka di pagar Madinah. Maka seorang lelaki (dari kaum muslimin) maju menerobos musuh, sehingga orang-orang mengatakan: “Apa-apaan ini, Laa ilaha illalloh dia telah melemparkan dirinya sendiri kepada kebinasaan”. Maka Abu Ayyub Al-Anshori mengatakan: “Sesungguhnya ayat ini turun kepada kami orang-orang Anshor. Ketika Alloh menolong Nabi-Nya dan Islam berjaya, kami berkata: “Ayo kita mengurus harta-harta kita dan mengelolanya”. Maka Alloh Ta’ala menurunkan:
وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ
“Berinfaklah kalian di jalan Alloh dan janganlah kalian melemparkan diri sendiri kepada kebinasaan” (QS Al-Baqoroh Ayat 195)
Maka pelemparan diri sendiri kepada kebinasaan adalah kita mengurus harta-harta kita, mengelolanya dan meninggalkan jihad”. Abu ‘Imron mengatakan: “Abu Ayyub terus-terusan berjihad di jalan Alloh sampai dia dimakamkan di Konstantinopel”. (HR Abu Daud dan At-Tirmidzy dishohihkan Syaikh Al-Albany dan Syaikh Muqbil Rahimahumalloh Ta’ala).
Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
وَاللهِ مَا الدُّنْيَا فِى الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ  فِى الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ
“Demi Alloh, tidaklah dunia jika dibandingkan dengan akhirat melainkan sebagaimana seseorang diantara kalian memasukkan jarinya ke dalam laut, maka lihat seberapa air yang dia dapatkan” (HR Muslim dari hadits Al-Mustaurid bin Syaddad Rodhiyallohu ‘Anhu)
Dari Jabir bin ‘Abdillah Rodhiyallohu ‘Anhu, beliau mengisahkan:
أَنَّ رَسُولَ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- مَرَّ بِالسُّوقِ دَاخِلاً مِنْ بَعْضِ الْعَالِيَةِ وَالنَّاسُ كَنَفَتَهُ فَمَرَّ بِجَدْىٍ أَسَكَّ مَيِّتٍ فَتَنَاوَلَهُ فَأَخَذَ بِأُذُنِهِ ثُمَّ قَالَ « أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ ». فَقَالُوا مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَىْءٍ وَمَا نَصْنَعُ بِهِ قَالَ « أَتُحِبُّونَ أَنَّهُ لَكُمْ ». قَالُوا وَاللهِ لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ عَيْبًا فِيهِ لأَنَّهُ أَسَكُّ فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ فَقَالَ « فَوَاللهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ »
Bahwasanya Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam melewati pasar. Beliau masuk dari arah dataran tinggi Madinah sementara orang-orang berada di kiri-kanannya. Kemudian beliau melewati bangkai anak kambing yang terpotong telinganya. Beliau lantas menarik telinga kambing tesebut lalu berkata: “Siapa diantara kalian yang mau membeli ini dengan satu dirham”. Maka orang-orang menjawab: “Kami tidak mau menghargainya dengan apapun, apa yang akan kami perbuat dengannya?”. Beliau berkata: “Apa kalian mau ini untuk kalian?”. Mereka menjawab: “Demi Alloh, seandainya anak kambing ini masih hidup maka itu adalah cacat baginya, makabagaimana kalau sudah jadi bangkai ?”. Maka beliau mengatakan: “Demi Alloh, sesungguhnya dunia di sisi Alloh lebih hina daripada (hinanya bangkai anak kambing) ini di sisi kalian” (HR Muslim)
Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah memuji orang-orang yang lebih mengedepankan perkara akhirat ketimbang dunia. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآَصَالِ ¯ رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ ¯ لِيَجْزِيَهُمُ اللهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَاللهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Di rumah-rumah (masjid) yang telah diperintahkan Alloh untuk dimuliakan dan nama-nama-Nya disebut, serta bertasbih untuk-Nya di pagi dan petang. (Yaitu oleh) orang-orang yang tidak dilalaikan perdagangan dan jual beli dari mengingat Alloh, melaksanakan sholat dan menunaikan zakat. Mereka orang-orang yang takut kepada hari yang hati-hati dan penglihatan menjadi goncang (Hari Kiamat)” (QS An-Nur Ayat 36-38)
Yakinlah atas apa yang Alloh janjikan, dan sadarilah bahwa semua yang kita peroleh di dunia tidak lepas dari kekuasaan Alloh, kita hanya satu dari sekian makhluk yang berada dalam pengaturan-Nya. Ingatlah bahwasanya kita memiliki kewajiban-kewajiban sebagai seorang hamba. Janganlah demi kenikmatan sejenak menimbulkan penyesalan yang tidak berguna. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَعْدَ اللهِ لَا يُخْلِفُ اللهُ وَعْدَهُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ ¯ يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ ¯ أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوا فِي أَنْفُسِهِمْ مَا خَلَقَ اللهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ لَكَافِرُونَ ¯ أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ كَانُوا أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَأَثَارُوا الْأَرْضَ وَعَمَرُوهَا أَكْثَرَ مِمَّا عَمَرُوهَا وَجَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَمَا كَانَ اللهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ ¯ ثُمَّ كَانَ عَاقِبَةَ الَّذِينَ أَسَاءُوا السُّوأَى أَنْ كَذَّبُوا بِآَيَاتِ اللهِ وَكَانُوا بِهَا يَسْتَهْزِئُونَ ¯ اللهُ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“(Itulah) janji Alloh, Alloh tidak akan menyalahi janjinya, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Mereka mengetahui apa yang tampak dari kehidupan dunia sementara mereka lalai dari kehidupan akhirat. Mengapa mereka tidak memikirkan diri mereka sendiri ? Alloh tidak menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada diantara keduanya kecuali dengan tujuan yang benar dan sampai waktu yang ditentukan (hari kiamat). Sesungguhnya banyak diantara manusia yang benar-benar mengingkari pertemuan dengan Robbnya. Tidakkah mereka bepergian di muka bumi kemudian melihat kesudahan orang-orang yang sebelum mereka ?. Orang-orang itu lebih kuat dari mereka. Orang-orang tersebut telah mengolah bumi dan memakmurkannya melebihi apa yang telah mereka makmurkan. Telah datang kepada mereka para Rosul yang membawa bukti-bukti yang jelas. Alloh sama sekali tidak menzholimi mereka, akan tetapi merekalah yang menzholimi diri mereka sendiri. Kemudia azab yang buruk adalah kesudahan bagi orang-orang yang berbuat kejahatan, karena mereka mendustakan ayat-ayat Alloh dan selalu memperolok-olokkannya. Allohlah yang memulai penciptaan makhluk lalu mengulanginya kembali, kemudian kepada-Nyalah kalian akan dikembalikan”. (QS Ar-Rum 6-11)
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَا أُوتِيتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَزِينَتُهَا وَمَا عِنْدَ اللهِ خَيْرٌ وَأَبْقَى أَفَلَا تَعْقِلُونَ ¯ أَفَمَنْ وَعَدْنَاهُ وَعْدًا حَسَنًا فَهُوَ لَاقِيهِ كَمَنْ مَتَّعْنَاهُ مَتَاعَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ثُمَّ هُوَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْمُحْضَرِين
“Apa saja yang diberikan kepadamu, maka itu adalah kesenangan hidup duniawi dan perhiasannya, sedang apa-apa yang di sisi Alloh lebih baik dan lebih kekal. Tidakkah kalian mengerti ?. Maka apakah sama antara orang yang Kami janjikan kepadanya suatu janji yang baik (surga) lalu dia memperolehnya, dengan orang yang Kami berikan kepadanya kesenangan hidup duniawi kemudian pada hari kiamat dia termasuk orang-orang yang diseret (ke dalam neraka) ?” (QS Al-Qoshosh Ayat 60-61)
Alloh juga telah menyebutkan bahwa menghabiskan diri untuk dunia dan melalaikan akhirat adalah sifat orang-orang kafir. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ هَؤُلَاءِ يُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ وَيَذَرُونَ وَرَاءَهُمْ يَوْمًا ثَقِيلًا
“Sesungguhnya mereka mencintai dunia dan meninggalkan Hari yang berat (kiamat) di belakang mereka”(QS Al-Insan Ayat 27)
Maka sudah semestinya bagi seorang muslim untuk memikirkan apa yang dia perbuat di dunia, karena dunia adalah tempat beramal. Kelak akan datang hari perhitungan tidak ada kesempatan lagi baginya untuk beramal. Janganlah dunia menjadi penghalang bagi dirinya untuk memperoleh ketenangan di akhirat, janganlah dunia menjadi sebab baginya untuk menghalangi orang mendapatkan kebaikan karena itu akan membahayakan dirinya kelak. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
اللهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَوَيْلٌ لِلْكَافِرِينَ مِنْ عَذَابٍ شَدِيدٍ ¯ الَّذِينَ يَسْتَحِبُّونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الْآَخِرَةِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللهِ وَيَبْغُونَهَا عِوَجًا أُولَئِكَ فِي ضَلَالٍ بَعِيدٍ
“Alloh yang memiliki apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Celakalah bagi orang-orang yang ingkar, bagi mereka azab yang pedih. Orang-orang yang lebih mencintai kehidupan dunia ketimbang akhirat, dan menghalang-halangi dari jalan ‘Alloh serta mengharapkan jalan kebenaran menjadi bengkok (sehingga tidak diikuti). Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh” (QS Ibrohim Ayat 2-3)
Kondisi yang bapak dapatkan pada putra bapak, atau yang ibu temukan pada putri ibu sesungguhnya adalah sebuah tanda kebaikan bagi mereka. Karena ilmu bagi pecintanya dan kenikmatan dunia bagi penggilanya adalah dua perkara yang tidak ditemui batasannya. Karenanya orang yang mencintai dunia tidak akan merasa cukup dengan apa yang diperolehnya sebagaimana orang yang menginginkan ilmu akhirat juga tidak akan puas dengan apa yang diperoleh karena ilmu adalah penuntun amalan-amalannya dalam mendekatkan diri kepada Robb-Nya. sebagaimana sabda Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam:
مَنْهُوْمَانِ لَا يَشْبَعَانِ مَنْهُوْمٌ فِي عِلْمٍ لَا يَشْبَعُ وَمَنْهُوْمٌ فِي دُنْيَا لَا يَشْبَعُ
“Dua keinginan yang (seseorang) tidak pernah merasa puas. Keinginan terhadap ilmu tidak akan puas dan keinginan terhadap dunia tidak akan puas” (HR Ibnu ‘Adi (dari Anas Rodhiyallohu ‘Anhu) dan Al-Bazzar (dari Ibnu ‘Abbas  Rodhiyallohu ‘Anhuma) dishohihkan Syaikh Al-Albany Rahimahulloh)
Keduanya akan saling tolak-menolak di hati seorang hamba, tinggal hamba memilih jalannya dan menentukan kecenderungannya. Namun beruntunglah orang-orang yang menjadikan perhatiannya dan kecendrungannya kepada ilmu agamanya, karena itu alamat kebaikan yang diinginkan Alloh baginya.
Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
من يُرِدِ اللُه بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ
“Barangsiapa yang Alloh inginkan kebaikan maka Alloh akan memahamkannya tentang agama ini” (HR Bukhory-Muslim dari Mu’awiyah Rodhiyallohu ‘Anhu)
Dan ilmu tentunya bisa didapatkan dengan mempelajarinya. Beliau Shollallohu ‘Alaihi wa Sallambersabda:
إنما العلم بالتعلم
“Ilmu itu hanya didapatkan dengan mempelajarinya” (HR Al-Khotib dari Abu Hurairoh Rodhiyallohu ‘Anhu, dihasankan Syaikh Al-Albany Rahimahulloh)
MASA DEPAN SURAM?
Mungkin masih tersisa di benak sebagian orang, kalau anak saya belajar agama, dia mau jadi apa ? mau makan apa ? bagaimana masa depannya ??
Ingatlah bahwa Alloh menciptakan kita di dunia ini adalah untuk mengesakan-Nya dalam peribadahan:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ¯ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ ¯ إِنَّ اللهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
“Tidaklah Kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengesakan-Ku. Aku tidak menginginkan rezki dari mereka dan Aku tidak ingin diberimakan. Sesungguhnya Alloh adalah Ar-Rozzaq (Yang Maha Pemberi Rezki) yang memiliki kekuatan yang sangat kukuh” (QS Adz-Dzariyat Ayat 56)
Setelah menyebutkan tujuan penciptaan manusia, Alloh menyebutkan masalah rezki, yang menunjukkan bahwa peribadatan tidak akan mengurangi rezki seseorang karena dia mengibadahi Ar-Rozzaq (Dzat Yang Maha Pemberi Rezki). Rezki tiap-tiap orang telah ditentukan sebelum dia dilahirkan, dan seseorang tidak akan menjumpai ajalnya sebelum jatahnya di dunia didapatkannya. Alloh Subhanahu wa Ta’alaberfirman:
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِين
Tidak satupun makhluk yang bergerak (bernyawa) di bumi kecuali rizkinya dijamin oleh Alloh. Dia mengetahui tempat tinggal dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis pada Kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh)” (QS Hud Ayat 6)
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لَا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيم
“Berapa banyak makhluk bergerak (bernyawa) yang tidak mampu mengusahakan rezkinya sendiri. Allohlah yang memberi rezki kepadanya dan kepada kalian, Dialah As-Sami’ (Dzat Yang Maha Mendengar) dan Al-Alim (Dzat Yang Maha mengetahui)” (QS Al-Ankabut Ayat 60)
Imam Ibnu Katsir Rahimahulloh menyebutkan dalam tafsirnya:
وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لَا تَحْمِلُ
“Maksudnya: tidak mampu mengumpulkan, memperoleh dan menyimpan untuk esok.
اللهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ
Maksudnya: Dialah yang menakdirkan rizki bagi makhluk tersebut bersamaan dengan kelemahannya, Dia memudahkan rizki itu baginya, maka Alloh mengutus kepada makhluk berupa rizki yang bermanfaat baginya, sampai-sampai semut kecil muka bumi, burung di angkasa dan ikan di air”.
Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إن أحدكم يجمع في بطن أمه أربعين يوما ثم يكون علقة مثل ذلك ثم يكون مضغة مثل ذلك ثم يبعث الله ملكا فيؤمر بأربع كلمات ويقال له اكتب عمله ورزقه وأجله وشقي أم سعيد ثم ينفخ فيه الروح
“Sesungguhnya salah seorang dari kalia dikumpulkan dalam perut ibunya dalam empat puluh hari. Kemudian menjadi segumpal darah selama (empat puluh hari) itu juga. Kemudian menjadi segumpal daging selama (empat puluh hari) itu juga. Lalu diutus malaikan dan diperintahkan dengan empat kalimat (perkara). Dikatakan kepadanya (malaikat): “Tulislah amalannya, rezkinya, ajalnya, dan kesengsaraan atau kebahagiannya”. Kemudian ditiupkan ruh kepadanya” (HR Bukhory dari Ibnu Mas’ud Rodhiyallohu ‘Anhu)
Beliau Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
لو أن ابن آدم هرب من رزقه كما يهرب من الموت لأدركه رزقه كما يدركه الموت
“Seandainya anak Adam lari dari rezkinya sebagaimana larinya dia dari kematian, niscaya rezki rezki itu akan mendatanginya sebagaimana kematian akan mendatanginya” (HR Abu Nu’aim di Al-Hilyah dan Ibnu ‘Asakir dari Jabir Rodhiyallohu ‘Anhu, dihasankan Syaikh Al-Albany)
Beliau Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda:
إن روح القدس نفث في روعي : إن نفسا لا تموت حتى تستكمل رزقها فاتقوا الله وأجملوا في الطلب ولا يحملنكم استبطاء الرزق أن تطلبوه بمعاصي الله
“Sesungguhnya Rohul Qudus (Jibril), membisikkan ke hatiku: “Sesungguhnya jiwa tidak akan mati sampai dia menyempurnakan rezkinya”. Maka bertakwalah kalian kepada Alloh dan carilah nafkah dengan baik. Janganlah rasa lama datangnya rezki menyebabkan kalian mencarinya dengat kemaksiatan kepada Alloh” (HR Al-Hakim dari Ibnu Mas’ud Rodhiyallohu ‘Anhu, dishohihkan Syaikh Al-Albany dengan penguat dari hari yang lain)
Karena itu jugalah, tidak ada pertentangan antara dalil-dalil yang menganjurkan seorang mukmin untuk fokus terhadap perkara agamanya, dengan dalil-dalil yang berisi anjuran untuk mencari rezki yang halal, karena seorang mukmin mencari penghidupan adalah untuk menunaikan apa-apa yang diwajibkan baginya dan menyokong peribadahannya kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Seorang mukmin hanya menjalankan sebab-sebab yang halal untuk mencapai rezki yang Alloh turunkan karena Alloh menyuruh manusia untuk menempuh sebab-sebab itu dan Dialah yang akan memberikan rizki kepada hamba-Nya.
Banyak orang yang tidak menyadari bahwasanya beribadah kepada Alloh, menjalankan ketaatan kepadanya dan menuntut ilmu agama-Nya, adalah sebab Alloh turunkan rizki kepada hamba-Nya walaupun bentuk datangnya rezki tersebut di luar dari dugaan hamba.
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ¯ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Alloh maka Alloh akan memberikannya jalan keluar dan Dia akan memberikannya rezki dari arah yang tidak dia sangka-sangka. Barangsiapa yang bertawakkal kepada Alloh maka Alloh akan mencukupkannya. Sesungguhnya Alloh melaksanakan urusan-Nya. Sungguh Alloh telah menetapkan kadar bagi setiap sesuatu” (QS At-Tholaq Ayat 2-3)
Beliau Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
من كانت الدنيا همه فرق الله عليه أمره وجعل فقره بين عينيه ولم يأته من الدنيا إلا ماكتب له . ومن كانت الآخرة نيته جمع الله له أمره . وجعل غناه في قلبه وأتته الدنيا وهي راغمة
“Barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai cita-citanya maka Alloh akan mencerai berai urusannya dan menjadikan kemiskinan di depan matanya. Dan dia tidak akan didatangi kenikmatan dunia kecuali yang telah tertulis baginya. Barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai niat (tujuan)nya maka Alloh akan jadikan kekayaan di hatinya dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan rendah” (HR Ahmad dan Ibnu Majah dari Zaid bin Tsabit Rodhiyallohu ‘Anhu, dishohihkan Syaikh Muqbil dan Al-Albany)
Beliau Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda dalam sebuah hadits Al-Qudsi:
يقول ربكم يا ابن آدم تفرغ لعبادتى أملأ قلبك غنى وأملأ يديك رزقا يا ابن آدم لا تباعد منى فأملأ قلبك فقرا وأملأ يديك شغل
“Robb kalian mengatakan: “Wahai anak Adam. Curahkanlah (tenaga, waktu, pikiran dll) untuk beribadah kepada-Ku maka akan kupenuhkan hatimu dengan kekayaan dan tanganmu dengan rezki. Wahai anak Adam janganlah engkau menjauh dari-Ku niscaya akan kupenuhi hatimu dengan kemiskinan dan tanganmu dengan kesibukan” (HR Al-Hakim dari Ma’qil bin Yasar Rodhiyallohu ‘Anhu, dishohihkan Syaikh Muqbil dan Al-Albany)
ada yang mengatakan bahwa banyak orang yang belajar agama susah hidupnya …
Saudaraku seislam. Apakah orang yang menghabiskan waktunya membanting tulang siang dan malam untuk menggapai dunia mereka hidup dalam kelapangan?? Bahkan kebanyakan diantara mereka sudah hidupnya dan gelisah pikirannya …
Saudaraku seislam. Kemiskinan bukanlah suatu kehinaan sebagaimana kekayaan bukanlah sesuatu yang terpuji. Kehinaan adalah kelalaian hamba dari akhiratnya, ketundukannya kepada dunianya. Keterpujian adalah keseriusan seorang hamba akan perkara akhiratnya, entah itu Alloh sertakan dengan kemiskinan atau dengan kekayaan. Persaingan dalam perkara akhirat adalah sebab kebahagiaan sementara persaingan dalam perkara dunia adalah sebab kebinasaan. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ ¯ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ ¯ وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Bersegeralah kepada ampunan dari Robb kalian, dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang telah dipersiapkan bagi orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang berinfak di saat lapang meupun sempit, menahan kemarahan serta memaafkan kesalahan orang lain. Alloh mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. Demikian juga orang-orang yang apabila mereka melakukan perbuatan keji atau menzholimi diri sendiri, mereka segera mengingat Alloh, siapa lagi yang mengampuni dosa kecuali Alloh. Mereka tidak mau meneruskan perbuatan dosanya ketika mereka mengetahui” (QS Ali ‘Imron Ayat 133-135)
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آَمَنُوا بِاللهِ وَرُسُلِهِ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيم
“Berlombalah kepada ampunan dari Robb kalian, dan surga yang luasnya seperti luas langit dan bumi yang telah dipersiapkan bagi orang-orang yang beiman kepada Alloh dan Rosul-Nya. Itulah keutamaan Alloh yang Dia berikan bagi orang-orang yang Dia kehendaki. Alloh adalah pemilik kemuliaan yang agung” (QS A-Hadid ayat 21)
Suatu hari Abu ‘Ubaidah Rodhiyallahu ‘Anhu kembali dari Bahrain membahwa harta jizyah (upeti yang mesti diserahkan penduduk kafir ke pemerintah muslim) yang melimpah untuk diserahkan kepada Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam. Dia akhir kisah, beliau Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
لا الفقر أخشى عليكم ولكن أخشى عليكم أن تبسط عليكم الدنيا كما بسطت على من كان قبلكم فتنافسوها كما تنافسوها وتهلككم كما أهلكتهم
“Bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan pada kalian. Namun yang aku khawatirkan adalah dibentangkannya dunia bagi kalian sebagaimana dibentangkan bagi orang-orang sebelum kalian, maka kalian bersaing untuk dunia sebagaimana mereka bersaing. Sehingga dunia membinasakan kalian sebagaimana dunia membinasakan mereka” (HR Bukhori Muslim dari ‘Amr bin ‘Auf Rodhiyallohu ‘Anhu)
Rosululloh hamba yang paling mulia di sisi-Nya ditakdirkan hidup dalam kekurangan. Demikian juga dengan mayoritas para shohabatnya yang mulia. Walaupun diantara mereka ada yang dikaruniakan kelapangan yang jelas tidak ada diantara mereka yang disibukkan dari peribadatan mereka kepada Alloh bahkan mereka saling berlomba untuk mencapai keridhoan Alloh dan memanfaatkan kelapangan yang dikaruniakan sebagai sarana untuk menunjang akhirat mereka.
Abu Hurairoh Rodhiyallohu ‘Anhu mengisahkan, bahwa orang-orang miskin dari kalangan Muhajirin datang mengadu kepada Rosululloh. Mereka mengatakan: “Orang-orang yang kaya telah membawa (memborong) posisi-posisi yang tinggi dan kenikmatan yang abadi”. Rosululloh bertanya: “Bagaimana bisa begitu?”. Mereka menjawab: “Mereka mengerjakan sholat  sebagaimana kami mengerjakan sholat, mereka berpuasa sebagaimana kami juga berpuasa, mereka memiliki kelebihan harta yang dengannya mereka bisa menunaikan haji, umroh, dinafkahkan untuk jihad dan sedekah” (HR Bukhory-Muslim)
Lihatlah bagaimana cara berpikir orang-orang yang paling mulia dari umat ini. Mereka tidak mengeluhkan kemiskinan yang menimpa mereka akan tetapi mereka mengeluhkan keterbatasan amalan mereka dibanding saudara-saudara mereka yang berkecukupan. Lihat juga bagaimana orang-orang yang berkecukupan di kalangan mereka, mereka berlomba-lomba untuk mencurahkannya dalam peribadatannya kepada Alloh, dunia tidak melalaikan mereka dari akhirat.
‘Umar bin Al-Khottob Rodhiyallohu ‘Anhu mengisahkan: “Suatu hari, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam menyuruh kami untuk bersedekah. Hal itu pas ketika aku memiliki harta. Maka aku berkata (di dalam hati): “Aku mengungguli Abu Bakr jika aku bisa mengunggulinya hari ini”, maka akupun datang dengan membawa setengah hartaku. Rosululloh lantas berkata: “Apa yang kamu sisakan bagi keluargamu ?”. Aku menjawab: “Semisalnya”. Kemudian Abu Bakr datang dengan semua yang ada padanya. Rosululloh lantas berkata: “Apa yang kamu sisakan bagi keluargamu ?”. Dia menjawab: “Aku meninggalkan bagi mereka Alloh dan Rosul-Nya”. Aku berkata (di dalam hati): “Aku tidak akan bisa mengunggulimu dalam perkara apapun”. (HR Abu Daud dihasankan Syaikh Muqbil).
Maka wahai saudaraku seiman kalau kita tidak mampu menyamai mereka, setidaknya kita berusaha untuk mendekati, meneladani mereka semampu kita. Jangan dunia dijadikan alasan berlambat-lambat untuk mempersiapkan akhirat bahkan sesungguhnya dunialah yang akan dipertanggung-jawabkan. Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
لا تزول قدما ابن آدم يوم القيامة من عند ربه حتى يسأل عن خمس : عن عمره فيما أفناه و عن شبابه فيما أبلاه و ماله من أين اكتسبه و فيما أنفقه و ماذا عمل فيما علم
“Tidak akan bergerak kedua kaki seorang anak Adam dari sisi Robbnya pada hari kiamat, sampai dia diatanya tentang lima perkara: (Dia akan ditanya) tentang umurnya untuk apa dia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa dia hilangkan, tentang hartanya dari mana dia dapatkan dan kepada dia pergunakan, serta ditanya apa amalan yang dikerjakan pada perkara-perkara yang dia memiliki ilmu tentangnya” (HR At-Tirmidzi, Abu Ya’la, Ath-Thorony dan lainnya dari Ibnu Mas’ud Rodhiyallohu ‘anhudishohihkan Syaikh Al-Albany)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar